the creatoris
my blog's
Minggu, 03 Maret 2013
Selasa, 08 Januari 2013
marah dalam perspektif Al-Qur'an
BAB
1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Marah pada dasarnya
merupakan suatu hal yang normal dan pernah dialami oleh kebanyakan orang.Disatu
sisi manusia memang perlu melepaskan marah yang ada di dalam dirinya agar
diperoleh kelegaan, atau agar terlepas dari suatu beban emosi yang cukup berat
yang mengganjal dalam hatinya.Marah adalah salah satu bentuk emosi manusia yang
normal dan sehat.Setiap individu pernah marah dengan berbagai alasan.Meski
merupakan suatu hal yang wajar dan sehat, namun jika tidak dikendalikan apalagi
bersifat destruktif, maka marah berpontensi besar untuk menimbulkan masalah
baru, seperti masalah di tempat kerja, di dalam keluarga, ataupun hubungan
interpersonal dalam masyarakat.[1]
Al-Qur’an adalah kitab
suci yang merupakan wahyu Allah SWT yang ditujukan untuk manusia, diri pribadi
dan alam semesta.Al-Qur’an merupakan kitab yang sempurna, memuat berbagai aspek
kehidupan manusia, baik itu berhubungan dengan aqidah, ibadah, muamalah, maupun
yang berhunbungan dengan kehidupan pada umumnya seperti politik, hukum,
perdamaian, perang, social dan ekonomi.Dalam kehidupan social ini manusia
beraneka ragam watak pikiran serta masalah yang dihadapi, dari watak yang
lembut sampai watak yang keras dalam menyelesaikan permasalahan.
Setiap jiwa manusia mengalami
berbagai perubahan dan pengaruh, apabila manusia senantiasa menjalankan
perintah Allah SWT dengan baik, maka akan memperoleh ketenangan dalam hidup,
sebaliknya jika manusia tidak menjalankan perintah Allah SWT dapat digolongkan
kedalam umat yang merugi. Sebagaimana firman Allah SWT Q.S Al-Asr ayat 1-3 yang
berbunyi:
ﻮﺍ ﻠﻌﺻﺮ ﴿١﴾ ﺇ ﻦ ﺍ ﻻ ﻨﺴﺎ ﻦ ﻠﻔﻴﻰ ﺧﺴﺮ ﴿۲﴾ ﺍ ﻻ ﺍ ﻠﺬ ﻴﻦ ﺍ
ﻤﻧﻮﺍ ﻮ ﻋﻤﻠﻮﺍ ﺍ ﻠﺻﻠﺤﺖ ﻮ ﺗﻮﺍ ﺻﻮﺍ ﺒﺎ ﻠﺤﻖ ﻮ ﺗﻮﺍ ﺻﻮﺍ ﺒﺎ ﻠﺻﺒﺮ ﴿۳
Artinya : “Demi masa
(1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar barada dalam kerugian (2) Kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, dan nasihat- menasihati
supaya mentaati kabenaran, dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran”.[2]
Dari ayat diatas jelaslah bahwa
manusia yang merugi adalah manusia yang tidak beriman, selalu ditimpa keresahan
dan kebimbangan-kebimbangan.Kemudian Allah SWT menyuruh manusia untuk saling
nasihat-menasihati agar mentaati kebanaran dan bersabar.
Pada
dasarnya manusia itu dalam keadaan merugi kecuali orang-orang yang mempunyai
empat sifat : 1) beriman 2) beramal shaleh 3) saling berwasiat kepada kebenaran
dan 4) saling berwasiat kepada kesabaran. Mereka melakukan dan mengajak
kebaikan kepada orang lain. Setapak pun ia takan mundur sekalipun berhadapan
dengan masyaqat dan musibah didalam melaksanakan da’wah kebaikan.[3]
Seseorang yang tidak dapat
mengendalikan dan mengarahkan jiwanya, serta tidak dapat menentukan kehendak
dan akalnya maka akan menimbulkan sifat marah.[4]
Ketika seseorang sedang marah, maka pasti ia tidak mampu lagi mengendalikan
akal dan aktifitasnya atau bahkan tidak mampu mengendalikan ucapanya, hal ini
akan membawa kepada tindakan yang tidak terkontrol atau mungkin akan terjadi
sesuatu yang tidak diinginkan karena terbawa oleh emosi. Salah satu hal yang
perlu diperhatikan bukanlah orang yang gagah itu orang yang paling gagah
dimedan pertempuran, melainkan orang
yang gagah itu adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.[5]
Nafs amarah
mengeluarkan perintah kepada jasad untuk melampiaskan kekesalan hati dengan
celaan-celaan,
tindakan-tindakan dan wujud kekesalan lainya tergantung pada tingkatan
kemarahan dari keimanan seseorang.
Sebagaimana firman Allah SWT QS Al-Imran ayat 134

Artinya: (yaitu) orang-orang yang menafkahkan
(hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan
amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang
berbuat kebajikan.[6]
Berdasarkan firman Allah SWT diatas
dapat dipahami bahwa menahan amarah merupakan perbuatan kebajikan, Allah SWT
menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan, jika manusia tidak melaksanakan
kebijakan Allah SWT dengan baik dan mempunyai iman yang lemah, akan
mengakibatkan manusia menjadi marah.
Menurut Tafsir Al-Maraghi
Orang-orang yang menahan dan
mengekang perasaan amarahnya, tidak mau melampiaskanya, sekalipun hal itu bisa
saja ia lakukan. Barang siapa menuruti nafs amarah, kemudian bertekad untuk
dendam, beararti ia tidak stabil lagi dan tidak mau berpegang teguh kepada
kebenaran. Bahkan terkadang ia bisa melampauinya hingga kelewat batas. Oleh
karena itu, dikatakan bahwa mengekang amarah termasuk taqwa kepada Allah SWT.[7]
Di zaman yang serba penuh kompetisi
ini, tekanan selalu datang bertubi-tubi. Persoalan hidup demikian pelik dan
rumit, mulai dari urusan kantor, keluarga, tetangga atau saudara, masalah
setiap saat menjumpai kita. Dengan demikian bara api dalam hati menjadi gampang
terpanggang, tidak perlu obor, tidak perlu daun kering dan kertas, apalagi
minyak tanah. Cukup sepercik api akan langsung membakar, bahkan tidak
sekedar ditiup saja bara itu lansung
keluar api.[8]
Rasulallah
saw bersabda:
ﻮﻋﻥ ﺍ ﺒﻰ ﻮﺍ ﺌﻞ ﺍ ﻠﻘﺎ ص ﻘﺎ ﻞ ׃ ﺪ ﺨﻠﻨﺎ ﻋﻠﻰ ﻋﺮ ﻮ ﺓ ﺒﻦ ﻤﺤﻤﺩ ﺒﻦ ﺍ ﻠﺴﺩ ﻯ ﻔﻛﻠﻤﻪ ﺮ ﺟﻞ ، ﻔﺎ
ﻏﻀﺒﻪ ، ﻔﻘﺎ ﻢ ﻔﻘﻮﻀﺄ ﻔﻘﺎ ﻞ ׃ ﺤﺩ ﺛﻨﻰ ﺍ ﺒﻰ ، ﻋﻦ ﺠﺩ ﻯ ﻋﻄﻴﺔ ﻘﺎ ﻞ ׃ ﻘﺎ ﻞ ﺮﺴﻮﻞ ﺍ ﷲ ﺻﻠﻰ ﺍ ﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻮ ﺴﻠﻢ ׃ ﺍ ﻦ ﺍ ﻠﻐﻀﺐ ﻤﻥ ﺍ ﻠﺸﻴﻄﺎ ﻦ ، ﻮﺍ ﻥ ﺍ ﻠﺸﻴﻄﺎ ﻦ ﺨﻠﻖ ﻤﻥ ﺍ
ﻠﻨﺎ ﺮ، ﻮﺍ ﻨﻤﺎ ﺘﻄﻔﺄ ﺍ ﻠﻨﺎ ﺮ ﺒﺎ ﻠﻤﺎﺀ ، ﻔﺎ ﺫﺍ ﻏﺿﺏ ﺍ ﺤﺩ ﻛﻡ ﻔﻠﻴﺘﻮ ﻀﺄ ﴿ﺮﻮﺍ ﻩ ﺍ ﺒﻮ
ﺩﺍﻮﺩ
Artinya : Dan dari Abu
Wa’il Al-Qaash, ia berkata : kami masuk atas Marwan bin As-Sa’diy, maka
seseorang berbicara dengannya, maka ia menjadi marah, maka ia berdiri lalu
berwudhu’, lalu berkata : Bapakku menuturkan kepada ku dari neneknya Athiyah,
ia berkata : Rasulallah s.a.w. bersabda : bahwa setan diciptakan dari api, yang
dapat meredamkan api adalah air, maka kalau seseorang diantara kamu marah, maka
hendaklah berwudhu’(HR. Abu Daud). [9]
Marah termasuk sifat kebinatangan
yang dimiliki manusia. Dan ia merupakan hal yang alami yang terakhir dalam diri
manusia atau hewan dari perasaan yang keras dan tajam terhadap yang lain.
apabila seseorang menemui sesuatu yang menjadi penghalang bagi keinginanya atau
bertentangan dengannya, maka ia akan merasa kesempitan (susah dan kesal), seperti ia mendengar
perkataan yang buruk atau tertimpa kezaliman. Lalu timbullah pada dirinya
perasaan ingin membalas dendam, dan kemudian bergejolaklah darahnya.karena itu,
kita menyaksikan bahwa kondisi kemudian , sebagian orang berubah mukanya,
menjadi merah dan tampak dengan jelas pergerakan darah yang ada diwajahnya.
Ketika itu jiwa seseorang cenderung untuk membalas dendam dan berusaha untuk
melakukainya.
Kemudian mulailah ia melontarkan
kata-kata yang bertentangan dengan yang sebenarnya, mencela orang lain dengan
ungkapan “yang keji dan yang hina” atau menggunakan tangan dan kakinya. Dalam
kondisi semacam ini ia tidak sadar apa yang ia perbuat. Inilah kondisi
kebinatangan yang tak lagi memperhatikan kebenaran. Ia ulurkan tanganya kepada
kebatilan dengan pandangan seperti pandangan hewan, ketika ia berjalan
beriringan dengan gejolak kemarahan, tidak ada yang ia lihat dihadapanya selain
dendam, sehingga terkadang ia merobek pakaianya, melontarkan celaan kepada
sesuatu yang tidak ada dihadapanya, ataupun memukul dirinya sendiri. Dari
uraian di atas, maka masalah ini sangat penting untuk diteliti. Dengan demikian
maka judul yang dapat di tarik adalah “Marah
Dalam Perspektif Al-Qur’an”
B.
Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut diatas dapat dirumuskan
beberapa masalah sebagai berikut:
1. Mengetahui Pengertian Marah.
2. Mengetahui Penyebab dan Akibat Marah.
3. Mengetahui Dampak Prilaku Marah.
4. Mengetahui Cara Mengatasi Marah.
C. Tujuan penelitian
Tujuan
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk Mengetahui Pengertian Marah.
2. Untuk Mengetahui Penyebab dan AkibatMarah.
3. Untuk Mengetahui Dampak Prilaku Marah.
4. Untuk Mengetahui Cara Mengatasi Marah.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Marah
Marah merupakan suatu emosi penting yang mempunyai
fungsiesensial bagi kehidupan manusia, yakni membantunya dalam
menjagadirinya.Pada waktu seseorang sedang marah, energinya guna melakukanupaya
fisik yang keras semakin meningkat.Ini memungkinkannya untuk mempertahankan
diri atau menaklukkan segala hambatan yang menghadangdi jalan dalam upayanya
untuk merealisasikan tujuan-tujuannya.Al-Qur’ansendiri memberikan anjuran
digunakannya kekerasan dalam menghadapiorang-orang kafir yang menghalangi
tersebar luasnya Islam.Kekerasanseperti ini adalah kekerasan yang timbul dari
marah karena Allah dan demiuntuk menyebar luaskan seruannya.[10]
Marah dikeluarkan oleh kesombongan yang tersembunyi
di bagian paling dalam di dalam hati setiap orang garang dan keras kepala.Di
antara produk kemarahan adalah iri dan dengki. Pangkalan keduanya pada segumpal
daging, jika dia baik , maka baik pula sekujur tubuh. Jika kedengkian, rasa
iri, dan amarah adalah di antara pemyebab yang menggiring hamba ke kawasan
kebinasaan, maka alangkah dia sangat membutuhkan pengetahuan tentang kebinasaan
dan keburukan-keburukannya agar waspada menghadapi semua itu, menjagainya,
membuangnya dari lubuk hati jika memang ada dan meniadakannya.[11] Sebagaiman Allah berfirman dalam Al-Qur’an

Artinya
: Ketika orang-orang yang kafir
menanamkan kesombongan dalam mereka(yaitu) kesombongan jahiliah, maka Allah
menurunkan ketenangan kepada RasulNya, dan kepada orang-orang mukmin, dan
(Allah) mewajibkan kepada mereka tetap taat menjalankan kalimat takwa, dan
mereka lebih berhak dengan itu dan patut memilikinya, Dan Allah Maha Mengetahui
segala sesuatu.[12]
Ayat ini mencela orang-orang kafir dengan apa-apa
yang mereka perlihatkan kesombongan jahiliah yang muncul
dari kemurkaan dengan kebathilan dan pujian bagi orang-orang yang beriman
dengan diturunkan ketenangan hati.Telah seorang berkata, “Wahai Rasulullah,
perintahkan kepadaku untuk melakukan suatu amal lalu aku menguranginya.” Beliau
menjawab, “ Jangan Marah.” Kemudian orang itu mengulang dan beliau menjawab,
“Jangan Marah.”
Marah
merupakan suatu emosi penting yang mempunyai fungsi esensial bagi kehidupan
manusia, yakni membantunya dalam menjaga dirinya.Pada waktu seseorang sedang
marah, energinya guna melakukan upaya fisik yang keras semakin meningkat.Ini
memungkinkannya untuk mempertahankan diri atau menaklukkan segala hambatan yang
menghadang di jalan dalam upayanya untuk merealisasikan
tujuan-tujuannya.Al-Qur’an sendiri memberikan anjuran digunakannya kekerasan
dalam menghadapi orang-orang kafir yang menghalangi tersebar luasnya
Islam.Kekerasan seperti ini adalah kekerasan yang timbul dari marah karena
Allah dan demi untuk menyebar luaskan seruannya.[13]Marah
yang dimaksud disini adalah perilaku yang tidak diterima secara emosional
dimana biasanya meledak-ledak, tidak terkendali atau bahkan sampai melakukan
tindakan kekerasan sehingga dapat menimbulkan ketidaknyamanan sosial dari
lingkungan sekitar.
Menurut Beck pada dasarnya ciri-ciri marah yang
terjadi pada seseorang, dapat dilihat dari beberapa aspek yaitu aspek
biopsikososial-kultural-spritual.[14]
a. Aspek Biologis
Respon fisiologis timbul karena
kegiatan sistem syaraf otonom bereaksi terhadap sekresi epinerpin, sehingga
tekanan darah meningkat, takikardi (frekuensi denyut jantung meningkat), wajah
merah, pupil melebar, dan frekuensi urin meningkat. Ada gejala sama dengan
kecemasan seperti meningkatnya kewaspadaan, ketegangan otot seperti rahang
terkatup,tangan dikepal, tubuh kaku dan reflek cepat. Hal ini disebabkan energi
yang keluarkan saat marah bertambah.
b. Aspek Emosional
Seseorang yang marah
merasa tidak nyaman, merasa tidak berdaya, jengkel, frustasi, dendam, ingin
berkelahi, mengamuk, bermusuhan, sakit hati, menyalahkan dan menuntut.Perilaku
menarik perhatian dan timbulnya konflik pada diri sendiri perlu dikaji seperti
melarikan diri, bolos dari sekolah, mencuri, menimbulkan kebakaran dan
penyimpangan seksual.
c. Aspek Intelektual
Sebagian besar
pengalaman kehidupan seseorang melalui proses intelektual. Panca indera sangat
penting untuk beradaptasi pada lingkungan yang selanjutnya diolah dalam proses
intelektual sebagai suatu pengalaman. Oleh karena itu, perlu diperhatikan cara
seseorang marah, mengidentifikasi keadaan yang menyebabkan marah, bagaimana
informasi proses. Diklasifikasikan dan diintegrasikan pada gangguan fungsi
pancaindera dapat terjadi penyimpangan persepsi seseorang sehingga menimbulkan
marah.
d. Aspek Sosial
Meliputi interaksi
sosial, budaya, konsep rasa percaya dan ketergantungan. Emosi marah sering
merangsang kemarahan dari orang lain, dan
menimbulkan penolakan dari orang lain. Sebagian orang menyalurkan
kemarahan dengan menilai dan mengkritik tingkah laku orang lain, sehingga orang
lain merasa sakit hati.
Proses tersebut dapat
menyebabkan seseorang menarik diri dari orang lain. Untuk memenuhi kebutuhan,
seseorang memerlukan saling berhubungan dengan orang lain. Pengalaman marah
dapat mengganggu hubungan interpersonal sehingga beberapa orang menyangkal atau
berpura-pura tidak marah untuk mempertahankan hubungan tersebut.Cara seseorang
mengungkapkan marah, merefleksikan budayanya.
B.
Penyebab
Marah
Marah tidak timbul dengan sendirinya terdapat faktor
penyebab atau pembawa yang dapat menyebabkan individu menjadi marah.Berikut ini
beberapa ahli memaparkan factor-faktor penyebab marah.
Menurut purwanto dan mulyono faktor-faktor yang
menyebabkan marah di bagi menjadi dua
yaitu faktor fisik dan faktor psikis. [15]
a. Faktor Fisik
·
Kelelahan
yang berlebihan.
·
Zat-zat
tertentu yang dapat menyebabkan marah.
·
Hormon
kelamin.
b. Faktor Psikis
Faktor ini erat
kaitannya dengan kepribadian seseorang. Terutama sekali yang menyangkut apa
yang disebut “konsep diri yang salah” yang menghasilkan pribadi yang tidak
seimbang dan tidak matang. Beberapa self concept yang salah dapat dibagi
menjadi :
1) Rasa rendah diri (MC= Minderwaardigheid Complex ),
2) Sombong ( Superiority Complex ),
3) Egoistis.
Faktor penyebab mengapa seseorang
menjadi marah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu; eksternal dan internal.
Faktor eksternal adalah hal-hal yang datang dari luar diri sang individu.
Contoh: marah kepada atasan atau bawahan, dan lain-lain. Selain hal-hal
eksternal tersebut, kemarahan juga dapat disebabkan oleh adanya faktor faktor
yang ada dalam diri sendiri.Dengan kata lain ada unfinished business (masalah
yang tidak tuntas) yang bisa memicu timbulnya marah. Contoh: ketakutan atau
kekhawatiran terhadap sesuatu hal tertentu, ketidakmampuan dalam berinteraksi,
adanya pengalaman traumatic ataupun kenangan pahit pada masa lalu.[16]
C. Akibat Dari Perilaku Marah
Perilaku marah dapat menimbulkan dampak yang tentu saja
negatif baik terhadap diri sendiri maupun orang
lain.Dibawah ini pendapat ahli mengenai
dampak negatif marah.
Wetrimudrison menyebutkan akibat
negative dari marah,yaitu :
1. Hidup jadi tidak bermakna. Hidup ini
makin bermakna, ketika banyak orang yang membutuhkan dan mengharapkan
keberadaan kita. Sebaliknya remaja pemarah hidup di dunia tidak nikmat karena
tidak di senangi orang, dan di akhiratpun tidak termasuk umat nabi Muhammad
karema nabi tidak mengajarkan umatnya menjadi pemarah.
2. Ditakuti orang, bukan di segani/ juga
bukan dihormati. Ditakuti orang karena sifat pemarah, akan berakibat di jauhi
orang-orang. Mungkim saja orang didepan sang pemarah. Orang pura-pura hormat
karena takut dengan kata-katanya, atau takuti di marahi, tapi setelah orang
berlalu dari hadapannya atau ketika dibelakangnya, orang-orang akan
mencemoohkan dan mencibirkan remaja yang suka marah tersebut.
3. Berpontensi cepat jadi pelupa, jika remaja
sering marah, akan terjadi banyak pemutusan sel-sel urat saraf pengingat, maka
otomatis urat saraf remaja itu telah kehilangan kekuatan dan jaringan fungsi
mengingat. [17]
D.
Dampak
Marah
Disini dampak marah terbagi dalam lima bagian,
yaitu:
Pertama,
membahayakan tubuh.Marah tumbuh dari gejolak darah dalam hati.Kemudian bertahan
kepada urat-urat nadi, seperti terlihat pada wajah dan kedua mata yang memerah.
Jika hal itu terjadi berulang-ulang, maka biasanya ia akan menimbulkan
hipertensi, bahkan mengakibatkan terpecahnya pembuluh darah yang menyebabkan
kelumpuhan. Itulah dampak dari bahaya marah terhadap tubuh.
Kedua,
menodai agama, Marah terkadang-kadang menyeret pelaku untuk mengumpat oramg
lain. Bahkan melecehkan kehormatan, merampas harta, dan menumpahkan darah
mereka.Semua itu adalah dosa dan menodai agama.
Ketiga,
tidak mampu mengendalikan diri.Marah menjadikan akal seolah-olah tertutup dan
terhalang.Jika akal tertutup atau terhalang, maka manusia menjadi tidak mampu
mengendalikan dirinya.Pada saat itulah muncul dari dalam dirinya sesuatu yang
tidak terpuji, sesuatu yang dapat membawa kepada penyesalan yang tidak berguna.
Keempat,
terjerumus ke dalam dalih yang hina.Orang yang suka marah melakukan sesuatu
yang tidak diketahui dan tanpa alasan yang jelas.Hal ini dapat menjerumuskannya
ke dalam perbuatan yang hina. Rasullah Saw. Melarang pelaksanaan setiap perkara
yang menjerumuskannya ke dalam alasan yang hina.Beliau bersabda,”Jauhkanlah
dirimu dari setiap perkara yang menuntut pemberian alasan.”
Kelima,
azab keras.Marah menimbulkan banyak kesalahan serta membuat seseorang
terjerumus ke dalam kemaksiatan dan keburukan. Akibatnya ia memperoleh azab
yang berat baik dunia maupun akhirat.[18]
E.
Cara
Mengatasi Marah
Ada dua hal yang mendasar yang
harus dilakukan untuk mengobati marah.Pertama , membekali diri dengan
pengetahuan yang membahas tentang bahaya marah dan dampaknya, serta
pengetahuan keutamaan bagi mereka yang
dapat mengendalikan gejolak marah.
Kedua, memohon perlindungan
Allah.Ini sebagaimana yang diajarkan Rasulallah dengan berdoa, “Ya Allah,
Tuhannya Muhammad, ampunilah dosaku, hilangkanlah kemarahan hatiku, dan
lindungilkah aku dari fitnah yang menyesatkan.”[19]Menurut
papu terdapat beberapa hal berikut ini pertimbangan untuk mengendalikan amarah,
yaitu:
a. Relaksasi. Melakukan relaksasi terbukti
dapat membuat seseorang menjadi tenang dalam menghadapi berbagai situasi yang
kurang menyenangkan atau penuh tekanan. Relaksasi dapat di lakukan dengan
berbagai variasi, misalnya menarik nafas dalam-dalam, melakukan latihan-latihan
ringan untuk mengendurkan otot-otot, atau pun dengan kata-kata: “Relaks: tenang
aja; take it easy; gak apa-apa ko”.
b. Humor. Meskipun amarah merupakan suatu
hal yang serius tetapi jika anda mau merenungkan atau mencermatinya secara mendalam
maka tidak jarang di dalam kemarahan seringkali tersimpan hal-hal yang bisa
membuat anda tertawa. Bahkan seringkali anda menemukan bahwa hal-hal yang
menjadi penyebab kemarahan adalah suatu hal yang lucu dan sangat sepele. Namun
demiakian dalam penggunaan humor hendaklah perlu di perhatikan 2 hal : 1)
jangan menggunakan humor hanya untuk mempertawakan masalah yang sedang
anda hadapi tetapi hanya gunakan humor
sebagai sesuatu cara yang konstruktif untuk menyelesaikan masalah. 2)
menggunakan humor-humor yang bersifat kasar atau sarkastik sebab hal itu
merupakan bentuk ekspresi kemarahan kemarahan yang tidak sehat.
c. Mengubah Cara Pandang. Individu yang
sedang marah cenderung mengumpat, mengutuk, menyumpah dan mengucapakn berbagai
macam kata-kata yang menggambarkan perasaan di dalam hatinya. Ketika sedamg
marah maka pikiran anda dan tindakan
bisa menjadi berlebih-lebihan dan dramatis. Oleh karena itu cobalah
mengubah pikiran-pikiran yang berlebih-lebihan tersebut dengan suatu yang
rasional.
Contoh: dari pada anda mengatakan:
“ ah, ini sangat mengerikan, hancur semuanya, ini adalah mimpi buruk saya”,
cobalah mengubahnya dengan : “Ya memang hal ini membuat saya frustasi, dan saya
bisa memahami mengapa saya bisa marah, tetapi ini bukanlah akhir dari segala-galanya
bagi saya dan kemarahan tidak mengubah apa-apa”. Mengingat bahwa amarah
seringkali berubah menjadi irasional maka untuk mengendalikannya dibutuhkan
pemikiran yang logis. Semakin anda bisa berpikir logis ( bisa mempertimbangkan
akibatnya dan berpikir jauh kedepan. dsb) maka akan semakin mudah anda
mengendalikan amarah dalam diri. Ingatkan diri anda, apa yang sedang terjadi
hanyalah merupakan suatu “tinta merah” dalam kehidupan anda. Ingat-ingat akan
hal ini setiap kali anda merasa marah supaya anda bisa mendapat pandangan yang
lebih seimbang.
d. Selesaikan Masalah Secara Tuntas.
Mengingat bahwa kemarahan bisa dipicu oleh hal-hal yang dating dari dalam diri
seperti adanya masalah yang belum terselesaikan, maka akan sangat baik jika
anda menyelesaikan setiap masalah yang muncul sesegera mungkin dan tuntas.
Meskipun dalam hidup mungkin ada masalah yang bisa terselesaikan tanpa campur
tangan anda secara signifikan, namun alangkah baiknya jika anda membiasakan
diri menyelesaikan setiap permasalahan yang berhubungan dengan diri anda. Dengan berkurangnya beban
psikologis dalam diri anda maka kemungkinan menjadi marahpun akan berkurang.
e. Mengubah Lingkungan, Apa yang
dimaksudkan dengan mengubah lingkungan dapat berupa penataan kembali tempat
tinggal ataupun tempat kerja anda. Mengubah lingkungan dapat juga berarti
merubah aturan main yang berlaku di lingkungan tersebut dan juga termasuk
mengubah kebiasaan diri anda sendiri untuk menghindari lingkungan tersebut
sementara waktu. Contoh: Daripada anda menjadi
marah-marah kepada rekan kerja karena jenuh dengan kondisi kerja yang
ada, maka ada baiknya anda mengambil cuti kerja dan pergi kesesuatu tempat
untuk menenangkan diri. Dengan cara ini maka pikiran anda akan menjadi fresh kembali
dan siap bekerja tanpa marah-marah.
f. Melakukan Konseling, Mengingat bahwa
setiap individu memiliki sumber daya yang berbeda dalam menghadapi situasi yang
penuh tekanan maka ketika anda merasa bahwa anda tidak lagi mampu mengendalikan amarah maka ada baiknya jika
anda melakukan konseling dengan psikolog atau para profesional lainnya. Melalui
bantuan professional ini anda mungkin akan diberikan bagaimana cara-cara yang
tepat mengendalikan amarah agar tidak merusak aspek kehidupan yang lain. Tentu
saja hasilnya tidak akan instant tetapi setidaknya hal itu akan membantu anda
menjadi lebih baik.[20]
Dengan cara itu, ia melawan ketakutan dan emosi
serta mengatasinya secara bertahap. Ada pula yang menggunakan cara dengan
spiritual. Ia membuat rileks otot-otot pada badannya, dengan cara yang sangat
santai agar dapat menghilangkan ketegangan otot fisiknya. Emosi sendiri
berhubungan dengan ketegangan akal.Oleh karenanya. Ketika dapat terlepas dari
ketegangan otot, emosi kita pasti akan mereda. Kita sendiri harus selalu
melihat kebaikan dan keburukan seseorang secara proporsional, karena kita tidak
boleh melihat seseorang dari sisi keburuknnya .Hal ini disebabkan karena
seorang manusia merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi antara
keistimewaan dan keburukannya atau kekurangannya.[21]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Pengertian Marah
Marah pada hakikatnya merupakan
gejolak hati yang mendorong agresifitas.
Energy marah ini meledak untuk mencegah timbulnya hal-hal negative juga untuk
melegakan jiwa sebagai pembalasan
hal-hal negative yang telah menimpa seseorang. Marah suatu emosi yang mempunyai
ciri-ciri aktivitas sistem syaraf simpatetik yang tinggi, dan adanya perasaan
tidak suka yang amat kuat yang disebabkan adanya kesalahan yang mungkin nyata salah atau
mungkin pula tidak.
Kemarahan atau marah sangat
tergantung dari persepsi orang yang bersangkutan. Artinya kemarahan yang
dirasakan oleh kita akan berbeda dengan kemarahan yang dirasakan oleh orang
lain dan atau suatu stimulus bisa menimbulkan kemarahan suatu individu tetapi
belum tentu menimbulkan kemarahan bagi individu lainnya, karena stimulus
tersebut bisa dianggap suatu kesalahan bagi seseorang tetapi tidak bagi yang
lainnya.
Marah mendorong pada seseorang pada
tingkah laku yang agresif, seperti mengumpat, memukul, menendang, mambanting
bahkan jika diteruskan pada tingkah yang lebigh ekstrim prilaku ini dapat
mengarah pada tindakan criminal seperti melukai, menyiksa bahkan
membunuh.Tetapi tentu saja ekspresi marah tidak selalu dalam bentuk tingkah laku
agresif. Karena sebagian orang marah ditunjukan dengan cara yang berlawanan
dengan agresi seperti diam, mengurug diri, murung atau menangis.
2.
Sebab-Sebab Marah
Maka harus mengetahui sebab-sebab
kemarahan, dan sebab-sebab yang membangkitkannya: berbangga-bangga, ujub, suka
canda, suka bergurau, mencela, mencibir, menjelekkan, permusuhan, curang, sangat ambisi untuk
mendapatkan harta dan kehormatan. Semua itu adalah akhlak yang hina dan tercela
secara syar’i.
3.
Akibat Marah
a.
Lisan
Lisan adalah ucapannya yang berupa
celaan dan kata-kata keji yang mana orang berakal malu mendengarnya dan malu
juga orang yang mengucapkannya setelah selesai marah.Semua itu dengan
mengendurnya tatanan dan kekacauan lafadz.
b.
Anggota Badan
Pada anggota badan bisa pemukulan,
ancaman, merobek, pembunuhan, melukai ketika ada kesempatan hingga
kadang-kadang merobek-robek pakaiannya sendiri, memukuli diri sendiri,
kadang-kadang memukul tanah dengan tangannya, dan bahkan mungkin dia akan
menderita semacam lupa ingatan.
c.
Hati
Hati adalah adanya rasa dengki,
hasud, menyembunyikan keburukan, senang dengan adanya berbagai keburukan, sedih
dengan adanya sesuatu yang menggembirakan, berkemauan keras untuk menyebarkan
rahasia, membinasakan batasan, mencela, dan keburukan-keburukan lainnya.Semua ini
adalah buah kemarahan yang berlebih-lebihan.
4.Dampak
Prilaku Marah
Dalam penulisan makalah ini,
terdapat beberapa dampak dari prilaku marah, salah satunya yaitu dampak dpat
membahayakan tubuh.Dimana marah tumbuh dari gejolak darah dalam hati.Kemudian bertahan
kepada urat-urat nadi, seperti terlihat pada wajah dan kedua mata yang memerah.
Jika hal itu terjadi berulang-ulang, maka biasanya ia akan menimbulkan
hipertensi, bahkan mengakibatkan terpecahnya pembuluh darah yang menyebabkan
kelumpuhan. Itulah dampak dari bahaya marah terhadap tubuh.
Kemudian dampak prilaku marah yaitu
dapat menodai agama, Marah terkadang-kadang menyeret pelaku untuk mengumpat
oramg lain. Bahkan melecehkan kehormatan, merampas harta, dan menumpahkan darah
mereka.Semua itu adalah dosa dan menodai agama.
5.
Cara Mengatasi Marah
Cara
mengatasi amarah itu dengan cara sebagai berikut:Hendaknya berpikir tentang
dalil-dalil yang telah ada berkenaan dengan keutamaan menahan amarah.
a. Hendaknya menakut-nakuti diri sendiri
akan adzab Allah jika dia membiarkan amarahnya terus berlalu.
b. Hendaknya ia selalu menakut-nakuti diri
sendiri akan akibat permusuhan dan dendam.
c. Hendaknya selalu berpikir tentang
buruknya perangai ketika marah.
d. Hendaknya selalu berpikir tentang
sebab-sebab yang menyeru dirinya untuk dendam dan mencegah dirinya dari menahan
amarah.
B.
Saran
Adapun saran yang penulis kemukakan dalam penulisan makalah
ini antara lain:
1. Pada hakikatnya manusia telah diberi
potensi oleh Allah, di mana potensi positif lebih kuat dari pada potensi
negatif. Hanya saja daya tarik keburukan lebih kuat dari pada kebaikan kepada
jiwa manusia. Oleh karenanya pendidikan Islam harus mampu mendidik individu
agar senantiasa dituntut memelihara kesucian dan kebersihan jiwanya. Dengan
jiwa yang demikian, individu akan hidup dalam ketenangan bersama Allah, teman,
keluarga, masyarakat, dan umat manusia di seluruh dunia.
2. Penulisan makalah tentang “Marah” ini
hanya sebagian kecil dari pemikiran yang ada di dalam Al-Quran sebagai kerangka
utamanya. Masih banyak tulisan yang mengetengahkan keistimewaannya sebagai
pedoman pembelajaran. Dengan demikian, perlu adanya penelitian lebih lanjut
untuk mengungkap pengetahuan ilmiah yang lebih komprehensip mengingat bahwa
marah merupakan elemen dasar psikis manusia.
[1]Wetrimudrison.Seni Pengendalian Marah dan Menghadapi Orang Pemarah.
(Bandung:Alfabeta,2005). Hal viii
[2]Departemen Agama R.I, Al-Qur’an
dan terjemah, Lubuk Agung, Jakarta, 1989, Halm. 1099
[3] Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Terjemah
Tafsir al-Maraghi, Diterjemahkan oleh Anshori Umar Situnggal, dkk, CV. Toha
Putra, Semarang, jilid 30, 1993, Halm. 412
[4] Dr. Amir. An-Najjah, Ilmu
Jiwa Dalam Tasyawuf, Pustaka Azzam, Jakarta, Sya’ban 1421 H/2000 M, Halm.
157
[5] Khalil Al-Musawi, Bagaimana
Membangun Kepribadian Anda, PT. Lentera Basri Tema Anggota KAAPI, Rabi’ul
Akhir 1419 H/1998 M, Halm. 74-75
[6] Departemen Agama, Al Quran terjemaah Al Huda,2002 Hal. 68
[7] Ahmad Mustafa al-Maraghi, Terjemah Tafsi al-Maraghi, diterjemahkan
oleh Anshori Umar Situnggal, dkk, CV. Toha Putra, Semarang, Jilid 4, 1993, Hal.
119
[8] Budi Handrianto, Kebeningan Hati dan Pemikiran Refleksi Tasawuf
Kehidupan Orang Kantoran, Gema Insani, Jakarta, 2002, Hal. 97-98
[9] Ustadz Bey Arifin dkk, Terjemah Sunan Abi Daud, CV.
Asy-Syifa’, semarang, Jilid 5, 1993, Hal. 145-146
[10]Najati, Utsman. Psikologi dalam Tinjauan Hadits Nabi saw. (Jakarta:
Mustaqin, 2003). Hal 77
[11]Imam al
Ghazali, Terjemah Ihya Ulumudin, diterjemahkan oleh
Drs. Asmuni, Buku Islam Kaffah, Jakarta, 2011, Hal. 365
[12] Departemen Agama, Al Quran
terjemaah Al Huda,2002 Hal.515
[13]Najati, Utsman. Psikologi dalam Tinjauan Hadits Nabi saw.
(Jakarta: Mustaqin, 2003). Hal 77
[14]Yadi Purwanto dan Rachmat Mulyono, Psikologi Marah, Refika Aditama,
Bandung, 2006, Hal. 14-16
[15]Yadi Purwanto dan Rachmat Mulyono, Psikologi Marah, Refika Aditama,
Bandung, 2006, Hal. 18-19
[16]Wetrimudroson. Seni Pengendalian Marah dan Menghadapi Orang Pemarah. (Bandun Alfabeta,
2005). Hal 6
[17]Wetrimudroson. Seni Pengendalian Marah dan Menghadapi Orang Pemarah. (Bandun Alfabeta,
2005). Hal . 13
[18] Hisham Thalbah, Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan hadis,
Sapta Sentosa, 2009, Hal. 72-73
[19] Hisham Thalbah, Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan hadis,
Sapta Sentosa, 2009, Hal. 73-74
[20] Johanes papu, ( 2003 ) .
Mengendalikan Marah,{online}. Tersedia http:// telaga.org. { 16 April
2012 }
[21] Hisham Thalbah, Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan hadis,
Sapta Sentosa, 2009, Hal. 76-77
Langganan:
Postingan (Atom)